(PART 3) Fenomena Kejahatan Korporasi Pencaplok Sumber Daya Alam Sebuah Kajian Dengan Pendekatan Teologi Dan Perspektif Teori Sosiologi Kritis
2. Kekuatan
Dan strategi-strategi Perusahaan Asing Atau Korporasi Menjarah Sumber Daya Alam Masyarakat Indonesia.
Adapun
kekuatan dan strategi-strategi yang dilakukan oleh perusahaan asing atau korporasi
dalam mencaplok sumber daya alam masyarakat indonesia yaitu dengan cara :
a) Memperkuat
kolektivitas kepemilikan,kepemilikan korporasi bukan perorangan,tetapi
persekutuan konglomerasi yang bisa bergerak lintas negara.WTO sudah menjadi
perpanjangan tangan perusahaan-perusahaan transnasional yang menjadi oligopolis
dan monopolis dunia,terutama dalam hak milik intelektual.lanjutnya,ekspansi
perdangan bebas,ekspansi kekuasaan,dan yurisdiksi WTO merupakan instrumen
multilateral perusahaan global yang sangat kuat yang merupakan ancaman yang
mematika terhadap pembangunan,keadilan sosial,persamaan hak dan lingkungan.
b) Bisnis
satu paket dengan kampanye privatisasi. Isu-isu tentang sistem ekonomi yang
dikampanyekan oleh korporasi global yaitu privatisasi, sebagaimana penulis
bahas di bab sebelumnya. Privatisasi diyakini bisa menyelesaikan kelangkaan
sumber daya air. Logika yang diyakini mengacu pada filosofi tragedi of commons
bahwa sumber daya alam akan tidak terurus jika dimiliki secara bersama-sama.
Oleh karena itu, harus dikenalkan sistem pemilikan pribadi (private right).
Pemikiran yang diyakini bahwa untuk menyelamatkan sumber daya alam dan dikelola
oleh pihak swasta. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Uniknya, pihak yang
mempropagandakan privatisasi bukan saja korporasi, melainkan juga Bank Dunia
(World Bank). Bank Dunia bisa memaksakan kehendaknya, negara-negara berkembang
dipaksa mengikuti aturan ini, sebab terjebak dalam syarat mendapat bantuan
utang. Mereka menerima pandangan bahwa, arahan dari Bank Dunia mampu
menghasilkan keuntungan komparatif. Dengan bersembunyinya dibalik MDGs
(Millenium Development Goals) 2015, program PSP (Private Sector Partisipation)
dan PPP (Public Private Partnership). Bank Dunia dengan giatnya mendorong
minimalisasi peran negara dalam pelayanan publik dan mengalihkan pada pihak
swasta.
c) Lobi
agresif kepada elit-elit lokal. Agen-agen neolib bukan saja berbisnis secara
radikal. Mereka juga tidak malu-malu untuk melakukan lobi dengan elit-elit
lokal. Hal ini dilakukan demi kemudahan berbisnis, bahkan sebisa mungkin lepas
dari kewajiban pajak dengan kompensasi ke oknum-oknum pemerintah dengan jumlah
uang yang lebih kecil. Lobi dilakukan sebagai strategi penting, selain
membangun citra lewat ikalan secara besar-besaran.
d) Memobilisasi LSM-LSM Internasional. Beberapa
LSM internasional merupakan bagian dari “kaki tangan” coporasi global yang
bergerak menjara sumber daya alam. Mereka memiliki peran tersendiri dalam
hubungan struktural ini. Adapun peran-peran tersebut, antara lain sebagai
berikut :
·
Membangun wacana tentang kehebatan teori
ekonomi pasar. Teori ini secara garis besar menyatakan bahwa semua barang
(termasuk sumber daya air) bida diperlakukan sebagai komoditas. Bagi Bank
Dunia, air direduksi dalam supplay and demand. Air di jelmahkan sebagai
komoditi yang patut diperdagangkan. Akibatnya, air tidak lebih seperti
barang-barang dagangan lainnya. Teori yang membenarkan ini disosialisasikan di
perguruan-perguruan tinggi dan forum-forum publik manapun.
·
Mengangkat isu-isu pelayanan publik
(public service).Dengan mendasarkan pada alasan kelangkaan (scarcity),isu
diarahkan pada negara yang dianggap tidak becus memberikan pelayanan yang abik
kepada masyarakat.Belum lagi jika lihat bentuk pertanggungjawaban
(akuntabilitas) badan usaha negara yang sering tidak transparan.Negara dianggap
tidak efisien (inefisiensi) dalam melayani masyarakat baik sebagai proses
maupun sebagai hasil yang berakibat hak-hak warga negara tidak terpenuhi.
·
Isu sebagai negara korup dan nepotisme
untuk menyoroti praktik-pratik yang lazim dilakukan oleh ekit-elit
dinegara-negara berkembang.Stigma sebagai negara yang terkorup yang selalu
dilansir media internasional akan memaksa negara berkembang bertekuk lutut
menerima konsep/paradigma liberalisme.
Mengapa korporasi bisa
melakukan itu dengan mengalahkan negara ? Sebaba,korporasi memiliki banyak
sumber daya.Beragamnya sumber daya jelas membuat banyak kelompok terpikat oleh
“Pesona” uang korporasi tersebut.Baik praktisi, akademisi,pedagang,sampai
seniman juga kan berbondong-bondong mencicipi kue dari korporasi itu.Model
mencicipi juga lain-lain,dari yang malu-malu sampai terang-terangan
Comments
Post a Comment