SURAT
UNTUK MASA DEPAN
“Apa
makna sukses bagi dirimu ?”
Itu
adalah pertanyaan yang aku lontarkan untuk diriku sendiri, entah mengapa sejak
aku SMA aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri tentang makna sebuah
kesuksesan. Apakah benar makna dari sebuah kesuksesan itu ketika kita bisa
kuliah di universitas bergengi, memiliki pekerjaan di tempat ternama, memiliki
popularitas, atau punya rumah, mobil dan motor yang mewah. Rasanya memang benar
semua yang aku sebutkan tadi dijadikan tolak ukur mayoritas masyarakat untuk
mendefinisikan suatu kesuksesan seseorang dalam hidup. Bahkan sedari aku kecil,
aku ingat orang tuaku selalu berkata “nanti kalau kamu sudah besar, kamu
akan tumbuh menjadi gadis cantik yang berpendidikan tinggi, menyetir mobil
mewah untuk pergi bekerja”
Aku
ingat-ingat rasanya jarang sekali aku mendengar nasihat-nasihat bahwa suatu
kesuksesan itu tidak hanya di ukur dari perolehan materi saja, tetapi ketika
hati dan pikiran sadar bahwa hidup itu bukan hanya tentang aku, tetapi ada
orang lain yang juga membutuhkan aku, dan aku wajib untuk mengerahkan apa yang
aku miliki untuk membantu orang lain. Namun, aku merasa beruntung meskipun
jarang sekali aku mendengar nasihat-nasihat itu, tetapi Sang Semesta mengarahkan hati dan pikiranku bahwa makna
dari sebuah kesuksesan tidak hanya tentang materi.
Cara
Sang Semesta mengarahkan hati dan pikiranku tersebut sangat sederhana hanya
melalui postingan instagram salah satu Pengajar Muda gerakan dari Indonesia
Mengajar. Saat itu aku tidak sengaja membuka akun instagramnya dan membaca
setiap caption yang ada pada fotonya. Saat itu, aku merasa terinspirasi
sekali setelah membaca tulisan-tulisannya tentang perjuangan selama masa
pengabdiannya sebagai tenaga pendidik di salah satu daerah pelosok negeri
bagian timur. Tulisan tersebut tanpa sengaja membuat diriku meneteskan air
mata, merasa malu dengan diriku sendiri yang belum melakukan hal berarti untuk
orang di sekelilingku apa lagi untuk Ibu pertiwi. Aku sangat malu, saat
pemuda-pemudi di luar sana memikirkan tentang cara mewujudkan harapan-harapan
orang lain, aku hanya diam berada di zona nyamanku.
Satu kesimpulan yang aku dapat dari membaca
setiap tulisan Pengajar Muda tersebut bahwa hidup ini bukan hanya tentang ego
kita sebagai manusia untuk sukses sendiri tanpa memperdulikan orang lain, tetapi
hidup ini juga tentang bagaimana kita mewujudkan harapan-harapan orang lain. Hal
itulah yang membuat aku bisa menjawab apa makna dari sebuah kesuksesan dalam
hidup.
Sampai
pada akhirnya, aku pun bisa merasakan bagaimana perjuangan yang di rasakan oleh
sosok Pengajar Muda yang mampu menginspirasiku hanya dari tulisan-tulisannya di
instagram. Aku bisa merasakan menjadi bagian dari mimpi-mimpi orang lain, aku
bisa merasakan nikmatnya ketika aku mampu membuat senyum dan tawa di wajah
orang lain. Semua yang aku rasakan tersebut sangat berarti sekali di dalam
hidupku yang akan menjadi cerita inspirasi untuk suami, anak-anaku, dan
cucu-cucuku di masa depan nanti.
“Terima
kasih Sang Semesta untuk setiap skenario hidup yang Kau berikan untukku, terima
kasih untuk setiap kejutan-kejutan indah yang Kau hadiahkan untukku, dan terima
kasih Semesta karena Kau telah membimbingku bahwa hidup bukan hanya sekedar
untuk mencari uang, tetapi untuk membawa pengaruh positif bagi lingkungan
sekitar”
11-11-2019
Sweet Moment From Allah SWT
“Apa yang kamu doakan, sedang Allah
kerjakan, dan tiba saatnya apa yang kamu doakan itu akan dihadiahkan dengan
cara yang indah tanpa bisa kamu bayangkan sebelumnya”.
11
November 2019 adalah moment termanis dalam hidupku, moment yang
akan selalu aku ingat dalam pikiran dan relung hati karena di hari lahirku
tersebut aku mendapatkan hadiah ulan tahun yang sangat istimewa, bukan hadiah
kue ulan tahun rasa coklat, boneka teddy bear yang lucu, ataupun setangkai
bunga mawar merah dari para sahabat apalagi pacar, tetapi hadiah istimewa tersebut
langsung diberikan oleh Sang Semesta untuk aku yang pernah berdoa ingin
memiliki kehidupan yang lebih bermakna dari rutinitas yang pada saat itu telah
aku jalani. Mungkin kalian yang sedang membaca cerita ini menjadi sedikit penasaran
tentang hadiah istimewa apa yang aku dapatkan dari Sang Semesta ini.
Hadiah
istimewa itu adalah mendapatkan kesempatan
yang sangat mulia, kesempatan yang tidak semua hati orang tergerak untuk
mendapatkannya atau pun orang yang tergerak hatinya namun belum beruntung untuk
mendapatkannya, yaitu kesempatan menjadi seorang “Guru Pengabdi” Gerakan dari
Muara Enim Cerdas (MEC). Kesempatan menjadi Guru Pengabdi adalah hadiah
termanis yang Dia berikan untukku, tepat tanggal 11 bulan 11 tahun 2019 aku
dinyatakan lulus sebagai “Guru Pengabdi” setelah melewati serangakain seleksi yang
tidak mudah bagiku untuk menjadi bagian dari Kabupaten Muara Enim.
Rasa
syukur dan bangga berpadu menjadi satu, gelora semangat untuk mengabdi kepada
Ibu Pertiwi berkobar di dalam hati. Sungguh beruntungnya aku dapat membersamai
generasi emas yang masih terpendam di pelosok Kabupaten Muara Enim, tepatnya di
Dusun IV Tenam Duduk, Desa Babatan, Kecamatan Semende Darat Laut (SDL) tempat
dimana aku akan banyak belajar dan menemukan pengalaman-pengalaman yang
bernilai.
Aku
bangga menjadi guru pengabdi karena bagiku menjadi guru pengabdi adalah sebuah
kesempatan yang sangat mulia. Satu tahun waktu yang dijalani sebagai guru
pengabdi akan memberikan pelajaran hidup yang tidak bisa dinilai dengan apa
pun. Pengalaman untuk survive di tempat asing dengan orang-orang baru
menjadikan diri ini manusia yang lebih kuat. Satu tahun menjadi guru pengabdi
melatih diriku untuk lebih ikhlas, tulus, dan sabar dalam menjalani hari-hariku
bersama anak-anak dan warga desa. Menjadi guru pengabdi aku belajar bahwa hidup
ini bukan hanya tentang egoku dalam mencapai targer-target impianku, tetapi
juga kepedulian tentang mimpi-mimpi
orang lain
“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat
untuk orang lain”
Welcome
to the Tenam Duduk Semende Darat Laut
Hari
pertama, tanggal 06 Januari 2020 keberangkatanku ke desa penempatan dimulai, pada
waktu itu aku berangkat bersama salah satu ibu guru di sekolah tempat dimana
aku akan mengajar, ibu guru tersebut mewakili kepala sekolah SD Negeri 17
Semende Darat Laut untuk menjemputku. Selama perjalanan kami banyak
menghabiskan waktu untuk bercerita tentang karakter masyarakat desa, kondisi
sekolah, dan yang paling menarik tentang anak-anak di desa penempatanku. Mendengar
cerita tentang anak-anak desa tersebut mampu menetralkan perasaan khawatirku
saat bu guru menceritakan di desa penempatanku nanti belum ada lampu PLN, yang
ada hanya lampu diesel yang hidup dari jam 18.00 sampai 22.00. Senang sekali
rasanya, bisa mendengar sedikit gambaran tentang desa penempatanku dari guru
yang akan menjadi rekan bertumbuhku selama di penempatan.
Tidak
hanya utaian cerita dari guru di sekolahku yang dapat menarik hati, tetapi
hamparan pemandangan disepanjang jalan menuju desa penempatanku juga menjadi
sisi yang tak kalah menarik untuk di nikmati dan disyukuri. Disepanjang
perjalanan menuju desa penempatanku, kita dapat melihat indahnya bukit barisan yang
menjulang tinggi, kebun kopi dan sawah yang menghampar hijau dikiri dan kanan
jalan. Pemandangan yang sangat indah disepanjang jalan membawa ketenangan dan
rasa takjub tersendiri kepada Semende yang memang terkenal dengan
keindahan alamnya. Kalau kalian pernah mendengar istilah “Keindahan alam
Indonesia bagaikan serpihan surga” maka Semende adalah salah satunya.
Pemandangan
alam yang mampu menghipnotis mata dan membuat hati nyaman membuat perjalanan
menuju kepenempatan tidak terasa lama, tiga jam perjalanan ditempuh dari
Kabupaten Muara Enim berjalan tanpa hambatan karena akses jalan yang kami lalui
masih aspal. Tiba saatnya, taksi semende yang kami tumpangi sampai ke Desa
Pulau Panggung, kata ibu guru yang menjemputku tidak akan lama lagi akan sampai
ke desa penempatan, mendengar informasi tersebut selintas dalam hatiku berkata
“sepertinya saya tidak akan merasakan hambatan akses jalan yang berarti di
sini (sambil tersenyum manis)”. Setelah taksi yang kami tumpangi melewati
Desa Pulau Panggung, aku melihat sesuatu yang berbeda, ternyata apa yang aku
katakan di dalam hati menjadi tidak sesuai karena akses untuk ke desa
penempatanku melewati jalan tanah merah, melewati curam jurang, dan jalan yang bergelombang. Seketika aku
tersadar, memang di butuhkan perjuangan untuk bisa sampai ke desa penempatanku,
apalagi jika hujan kondisi jalan berubah menjadi jalan tanah yang licin lebih
sulit untuk dilalui.
Tentang
kondisi jalan ekstrem yang akan kami lalui tersebut, memang sengaja untuk tidak
diceritakan dulu oleh ibu guru yang menjemputku agar menjadi sesuatu yang suprise
untukku. Setika aku sadar bagaimana perjuangan masyarakat yang ada di desa
penempatanku jika ingin keluar dari desa. Akses jalan yang tidak mudah untuk
dilalui tersebut menjadi tantangan tersendiri bagiku selama pengabdian kepada
Ibu Pertiwi.
Setelah
menempuh waktu satu jam setengah dari Desa Pulau Panggung ke desa penempatanku,
aku di sambut dengan hangat oleh para warga, kepala dusun, dan yang paling
spesial hangatnya sambuatan dari anak-anak. Aku bisa merasakan betapa senangnya
mereka bisa mendapatkan ibu guru baru untuk mengajari mereka di sekolah, dan
aku pun merasa tersanjung karena kehadiranku diterima dan diharapkan oleh warga
Dusun IV Tenam Duduk, Desa Babatan.
Satu hal yang membuat hatiku merasa bahagia
yaitu melihat senyum manis anak-anak di penempatanku, mereka malu-malu untuk
berkenalan denganku, begitu banyak pernyataan-pertanyaan yang mereka tanyakan
tentangku, mulai dari “Ibu berasal dari mana ?”, “nama lengkap ibu
siapa ?”, dan yang membuat mereka paling penasaran tentang jawaban
pertanyaan “ibu nanti mengajar kelas berapa ?”. Tingkah mereka yang
polos itu menjadi energi positif bagiku untuk menguatkan hati, melapangkan
dada, dan tentunya melakukan yang terbaik untuk generasi emas yang terpedam di
pelosok negeri ini yang haus akan ilmu dan inspirasi.
“Apa
yang membuat aku menjadi manusia yang lebih kuat ? ketika aku melihat senyum
dan tawa anak-anak di penempatanku dan ketika aku mengingat semua cerita
tentang cita-cita mereka di masa depan nanti”
Dialog
Antara Dua Aku
Keesokan
harinya, di pagi hari yang cerah, aku menatap langit biru yang indah di desa penempatanku,
aku merasakan dinginnya udara yang segar, dan melihat luasnya kebun kopi khas
semende di sekeliling desaku. Pemandangan yang begitu indah dan mendamaikan
hati. Di bawah indahnya langit biru di saksikan oleh pemandangan bukit barisan
yang menjulang tinggi, aku berdialog dengan diriku sendiri.
Aku
yang pertama berkata “apakah aku bisa melalui waktu satu tahun disini ?
dengan kemampuan diriku yang jauh dari kata sempurna”, lalu aku yang kedua
berkata “kamu pasti bisa karena kamu adalah jiwa yang kuat”. Rasa takut
dan semangat beradu menjadi satu, silih berganti berkata di dalam hati
mempengaruhi seluruh jiwa dan ragaku. Sampai pada akhirnya, dialog di antara
dua aku tersebut berhenti ketika “Aku yang Utuh” berkata “akan memberikan
yang terbaik untuk generasi emas yang ada di pelosok negeri ini. Nasihat yang
harus selalu aku ingat untuk selalu ikhlas, tulus, dan sabar menginspirasi
orang-orang yang ada disekitarku”. Setelah dialog itu selesai, aku
melangkahkan kaki ke sekolah untuk bertemu dengan guru-guru dan yang paling
spesial bertemu dengan anak-anak.
Sambutan
hangat dan senyum ceria adalah kesan pertama yang aku dapatkan dari guru-guru
terkhususnya anak-anak SD Negeri 17 Semende Darat Laut. Mereka sangat antusias
sekali dengan kehadiran sosok seorang guru yang akan melengkapi mereka. Saat aku memasuki pagar sekolah yang terbuat
dari bambu, anak-anak langsung berlari menuju padaku, mereka menyapaku,
tersenyum, dan mengantri untuk bersalaman denganku. Sungguh, aku merasa sangat terharu
sekali dengan sambutan hangat dari mereka. Kegembiraan anak-anak karena
hadirnya sosok seorang guru yang akan melengkapi mereka adalah pertanda betapa
haus nya mereka dengan ilmu. Tidak sedikit aku mendengar anak-anak berkata “akhirnya
ada guru yang akan mengajari kami”, aku merasa sangat bahagia sekali karena
makna kehadiranku diharapkan dan dihargai oleh mereka.
Hari
demi hari aku lalui dengan hati bahagia bersama ana-anak, kami belajar dan bermain
bersama. Banyak hal yang kami pelajari, dan yang paling kami sukai belajar
tentang indahnya kehidupan yang harus selalu disyukuri, belajar tentang
cita-cita yang harus diraih dengan kerja keras, dan belajar untuk terus menjadi
orang yang lebih dari hari-hari sebelumnya. Banyak moment yang aku lalui
bersama anak-anak yang selalu menghargai kebersamaan denganku. Tawa dan canda
bersama mereka menjadi bumbu-bumbu penyemangat dalam proses pengabdian ini. Tingkah
mereka yang polos menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagiku. Begitu banyak
kisah yang aku lalui bersama mereka, terkadang selama kebersamaan yang aku
lalui bersama anak-anak bukan hanya aku yang berusaha untuk menginspirasi
mereka, tetapi merekalah yang kadang menginspirasi aku tentang makna kehidupan
yang selalu mengarahkan hatiku untuk selalu bersyukur dan ikhlas.
“Percayalah
setiap keputusan yang membuat dirimu takut adalah keputusan yang akan membawa
dampak berarti bagi hidupmu, jika kamu tidak takut dalam mengambil sebuah
keputusan berarti itu adalah hal yang biasa-biasa saja”
Sweet
Seventeen : Hari ke 17 Tanggal 17 Bersama Anak-Anak SD N 17 SDL
Hari ini
tepat 17 hari aku menjalani kisah bersama dengan anak-anak di Sekolah Dasar
Negeri 17 Semende Darat Laut. Di pertemuan yang ke 17 ini aku sudah mulai
banyak hafal dengan nama, wajah, karakter, dan kemampuan yang mereka miliki.
Keakraban yang kami rajut membuat aku merasa tidak hanya berperan sebagai guru
disini tetapi juga sebagai seorang sahabat untuk anak-anak. Ketulusan,
kejujuran, dan kepolosan yang ada pada diri mereka menjadi alasan bagi aku
untuk selalu bersyukur dan bersemangat mengabdi untuk Ibu Pertiwi. Mengabdi
untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak agar tidak pernah berputus asa
serta menyerah dengan keadaan dalam mencapai kesuksesan, karena sejatinya
sukses adalah hak setiap orang tetapi tidak semua orang mau memperjuangkan
kesuksesan tersebut.
Saat
bersama mereka aku bisa melihat pancaran semangat anak-anak untuk belajar
banyak hal, berproses untuk memperjuangkan impian mereka. Rasa haus akan ilmu
nampak sekali ditatapan bola mata mereka saat belajar di waktu sekolah maupun
saat mengikuti kegiatan bimbingan belajar yang aku sediakan khusus untuk
mereka. Awalnya aku mengira kegiatan bimbingan belajar tersebut hanya diminati
oleh dua sampai tiga orang siswa saja, tetapi ternyata perkiraanku tersebut
salah. Cukup banyak anak-anak yang antusias untuk belajar lagi setelah pulang
sekolah. Bahkan beberapa anak yang dari dusun jauh rela untuk datang kesekolah
lagi demi mengikuti bimbingan belajar tersebut. Setiap hari, pukul 13.00 WIB anak-anak
selalu menjemputku untuk segera berangkat kesekolah lagi, padahal jadwal
bimbingan belajar dimulai pukul 14.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB. Sering kali
aku mendengar suara kecil memanggil “ Ibuk
Ibuk, buk Veven lah udem makan ngai bepenyap, men udem tiya kite kesekolah
aghi, lah banyak kance ku nunggu di sekolah”.
Setelah
nampak diriku di depan pagar sekolah, anak-anak langsung berteriak sambil
berlari kearahku “Yeeeee Ibuk Lah Datang”.
Mungkin itu terdengar biasa saja, tapi bagiku kalimat tersebut membuat aku merasa
menjadi sosok seorang guru yang benar-benar berarti, kalimat tersebut menjadi
magnet yang menarik hati untuk bersungguh-sungguh menjalani pengabdian ini.
Semangat mereka dalam belajar menginspirasiku untuk semangat pula mengerahkan jiwa
dan raga untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Aku berharap semangat
mereka untuk belajar tidak pernah padam sampai kapan pun.
Kebersamaan
yang aku lalui bersama anak-anak tidak hanya belajar tetapi juga bermain,
setelah selesai kegiatan bimbingan belajar, anak-anak selalu mengajak bermain,
dan permainan favorite kami adalah “ Tikus dan Kucing”. Ketika diriku menjadi
Kucing, aku sangat kewalahan mengejar anak-anak yang silih berganti menjadi
tikus. Mereka sangat energik dan lincah sekali. Tawa yang mereka lontarkan saat
melihat aku berlari mengejar temannya yang menjadi Tikus adalah kebahagian
tersendiri bagi diriku.
Menghabiskan
waktu dengan belajar dan bermain bersama anak-anak membuat hari-hari yang akujalani
terasa singkat. Saat belajar dan bermain bersama mereka membuat aku sadar bahwa
sebenarnya kebahagian itu bisa didapat dengan cara sederhana, tidak harus
bersumber dari hal-hal yang mahal. Senang sekali dapat merangkai kisah indah
bersama anak-anak SD Negeri 17 Semende Darat Laut yang selalu semangat
mempelajari hal baru. Dan semoga Yel-Yel yang kami cipta sebelum memulai
pelajaran akan selalu mereka kenang saat saya tidak bersama mereka lagi. “Saya adalah anak Rajin, saya adalah anak
Cerdas, saya selalu semangat kalau pergi sekolah untuk mencapai cita-cita saya,
Horeeee” (Yel-Yel SDN 17 SDL)
“Karena untuk merasakan bahagia itu tidak harus dari hal-hal mewah dan mahal, melihat senyuman dari wajah seseorang yang kita sayangi itu lebih dari sebuah kebahagiaan”
Puzzle
Kesayangan
Hari ini sama seperti hari sebelumnya, kami menjalani hari-hari dengan berbahagia bersama. Canda dan tawa tulus selalu kami lontarkan di sela-sela kebersamaan kami. Sekolah menjadi tempat pilihan kami untuk belajar sambil bermain karena dapat menepis sedikit rasa rindu sambil berdoa dan menunggu agar bumi segera pulih dari pandemi covid-19. Banyak hal yang kami pelajari di sekolah, salah satunya belajar Bahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah pelajaran tambahan yang sangat di gemari anak-anak. Mereka sangat bersemangat karena bagi mereka Bahasa Inggris adalah hal baru yang sebelumnya belum pernah mereka dapatkan.
Dan permainan puzzle menjadi permainan favorite ana-anak, karena bagi mereka bermain puzzle bisa membuat hati menjadi dag dig dug dan melatih ketepatan dalam berpikir. Puzzle yang hanya terbuat dari kardus bekas sangat berguna bagi anak-anak untuk mengisi hari-hari mereka dengan keseruan belajar. Melihat semangat dan keseruan mereka saat belajar Bahasa Inggris membuat saya disela-sela waktu saat malam hari ditemani suara jangkrik menyempatkan diri mengulang kembali pelajaran Bahasa Inggris karena aku menyadari kemampuanku berbahasa inggris belum terlalu baik. Tapi semangat anak-anak dalam mempelajarinya mampu membangkitkan semangatku untuk terus belajar.
Selama masa pengabdianku
ini, aku hanya ingin berbahagia bersama anak-anak, karena senyum dan tawa
mereka menjadi penguat hati dalam menjalani dan menghadapi kerikil-kerikil
kecil dalam proses pengabdian ini. Semangat selalu dalam belajar anak-anakku
karena pendidikan itu seperti cahaya yang akan menyinari masa depan kalian.
Beruntung sekali ibu menjadi bagian dari mimpi-mimpi kalian.
“Salah satu cara mencintai Allah dengan
cara mencintai ciptaan-Nya, dan aku sangat mencintai anak-anak di SD Negeri 17
Semende Darat Laut
Housefam Ternyaman Untuk
Aku Kembali Pulang
“Kamu
tidak sendiri saat di penempatan nanti, tidak seseram yang kamu bayangkan, akan
ada banyak hal yang kamu pelajari dan hal itu akan mendewasakan kamu”
Itulah
kalimat indah sebagai pesan dari salah satu teman baikku saat aku memilih untuk
belajar menjadikan hidup ini lebih bermanfaat bagi orang lain dan meninggalkan
sejenak rutinitas dan zona nyaman saat itu. Hari demi hari aku lalui di tempat
pengabdianku dan ternyata memang benar pesan dari teman baikku saat itu, di
sini, di penempatanku aku menemukan manusia-manusia yang membuat tenang, warga
setempat yang ramah, anak-anak polos yang begitu tulus dalam menerima
kehadiranku. Tingkah mereka yang sangat menghargai guru membuat diri ini
semakin semangat untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Hal
yang paling spesial dalam hidupku saat pertemuanku dengan embah dan
anak-anaknya yang begitu baik. Embah adalah salah satu warga di penempatanku
yang sangat bersedia menerima kehadiranku ditengah-tengah keluarga mereka yang
begitu hangat dan harmonis. Embah yang begitu baik denganku bernama Surmami berasal
dari Jawa Tengah. Embah sedari kecil sudah merantau ke Pulau Sumatera tepatnya
di Dusun Tenam Duduk, Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim.
Sering
kali aku mendengar cerita-cerita inspiratif dari Embah saat dia masih kecil,
masa kecil Embah yang di habiskan untuk membantu orang tuanya berjuang membuka
lahan kebun kopi agar dapat bertahan di tanah rantau. Aku selalu ingat pesan
embah bahwa baik atau buruknya kehidupan ini tergantung dari bagaimana kita
memperlakukan orang lain, jika kita selalu menebar kebaikan maka kebaikan itu
akan kembali kepada kita.
Aku
sangat bersyukur bisa bertemu dengan Embah, sosok yang sangat baik. Sosok yang
bisa membuat aku merasakan sosok ibu kandungku sendiri. Embah yang selalu mengingatkan
aku untuk makan tepat waktu, dia sosok yang selalu menjagaku, dan mendukungku
untuk selalu semangat dalam menjalani pengabdian ini. Tidak hanya Embah sosok
yang membuat aku nyaman, tetapi seluruh anak-anak embah, Mas Aan, Mas Tono,
Mbak Tri, dan yang paling spesial adalah Iin. Iin adalah anak bungsu embah yang
duduk di kelas 9 SMP, iin sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, dia adalah
sosok anak yang cerdas, santun, dan tentunya dia adalah teman setia yang selalu
mendengarkan curhatanku.
Kehangatan
sebuah keluarga juga aku rasakan dari cucu-cucu embah yang selalu menghiburku
dengan tingkah polosnya, mereka adalah Pajero, Faiz, Ainun, Dina, Juli, dan
yang paling spesial adalah Umi. Umi adalah cucu embah yang begitu baik padaku,
saat ini umi duduk di kelas 6 SD. Gadis kecil ini adalah sosok yang periang,
cerdas, dan dia pendengar setiaku saat aku bercerita tentang apa yang aku
rasakan setelah menjalani hari-hariku di penempatan.
Mengenal
mereka adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku, walaupun pada akhirnya
nanti akan ada fase yang memisahkan kami, tetapi mereka akan selalu tinggal di
hatiku karena mereka adalah bagian dari hidupku sampai kapan pun. Mereka adalah
sosok ternyaman untuk aku kembali pulang. Terima kasih untuk setiap kebaikan
yang telah diberikan untukku, terima kasih sudah mengajarkanku untuk menjadi
manusia yang lebih kuat, terima kasih untuk setiap ketulusan yang diberikan
untukku. Hanya Sang Semesta yang dapat membalas setiap kebaikan-kebaikan yang
kalian diberikan untukku.
“Karena untuk menjadi saudara tidak harus sedarah”

Comments
Post a Comment